Ducati Yakin Tumbuh di Pasar Motor Premium Asean

0
48
Ducati-Scrambler-Sixty2-Debut-Thailand-Motor-Expo
Ducati Scrambler Sixty2 tengah ditampilkan pada Thailand Motor Expo 2015 di Bangkok, Desember 2015 lalu. Ducati yakin pertumbuhan motor premium di Asean akan meningkat. Foto: Thai Scooter

Bangkok (naikmotor) – Pabrikan sepeda motor premium tengah mengincar pasar Asean, pasalnya jutaan sepeda motor berseliweran di sini, seperti yang dinyatakan Marco Biondi, Regional Director Asia, Ducati Motor Holding yang berkedudukan di Thailand.

Dari Jakarta ke Ho Chi Minh City dan sekitarnya, kepadatan jalanan kota-kota tersebut didominasi oleh sepeda motor menjadi pemandangan biasa.

Kendaraan roda dua menjadi biasa di manapun di Asia Tenggara, seperti hasil penelitian Pew Research Centre menunjukkan 8 dari 10 orang di Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Malaysia memiliki setidaknya sebuah sepeda motor.

Meski kebanyakan pengendara memilih motor yang terjangkau, seperti produk Jepang atau Tiongkok, pabrikan Italia Ducati masih berharap akan banyak yang mencari produk premium seiring dengan meningkatnya pendapatan mereka.

Untuk menunjukkan keyakinan mereka, Ducati telah membuka pabrik di Thailand 5 tahun lalu, pabrik pertama di luar Italia. Bersamaan dengan itu, telah diluncurkan showroom di Phnom Penh Desember 2015, Marco pun dengan yakin menyatakan, “Itu kesempatan besar, meski banyak pengendara di mana pun dengan mesin kapasitas kecil, kami akan memulai secepatnya meski sebagai start up, kami tak akan menawarkan sepeda motor massal,” tegasnya.

Di Kamboja, terdapat 2,3 juta sepeda motor beredar di jalan, yang meningkat dari 43.000 pada 1990, berdasarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Transport. Tetapi bagi siapa saja yang menjadi saksi kemacetan di jalanan ibukota bisa menilai, mobil pribadi akan mulai populer di kalangan menengah atas yang meningkat populasinya.

Biondi menyatakan Ducati tengah memainkan game jangka panjang. Dengan tujuan membidik orang yang berusaha mengganti mobil dengan membeli sepeda motor sesungguhnya.

“Ini adalah kunci yang harus dituntaskan di sini sebab kami tahu mereka menggunakan sepeda motor lebih dari sekadar alat transport,” imbuhnya. “Sekali orang naik ke kelas menengah mereka akan membeli mobil. Tetapi kami tak mau menggantikan mobil, apa yang kami mau sesungguhnya menawarkan kepada mereka sepeda motor premium untuk mendampingi mobilnya.”

Ducati memang telah berhasil dengan strateginya di Asia. Ducati telah menjual 45.000 sepeda motor pada 2014, angka itu kemudian meningkat drastis sebanyak 10.000 lebih dalam satu tahun terakhir. Asia sendiri mencatat sebanyak 6.500 unit terjual di 2015, yang diperkirakan akan menjadi 8.000 di 2016.

“Jika dibandingkan dengan pertumbuhan yang terjadi di belahan dunia lainnya, angka di Asia itu tertinggi,” klaim Bondi. “Pertumbuhan tertinggi terjadi di Asia Tenggara. Performa terbaik di Thailand, dengan pasar yang lebih dewasa. Pemain lainnya seperti BMW dan Triumph, pun mulai membaik. Dan kami melihat potensi di pasar lainnya seperti Vietnam.”

Model Ducati yang tengah diinvestasi dengan serius, Scrambler entry level, dirakit di Thailand, dipasarkan dengan harga13 ribu dolar. Sedangkan model tertinggi yang diimpor dari Italia dipasarkan 64 ribu dolar.

Dengan harga yang tinggi pada jajaran produknya, merek premium mesti kerja keras untuk membangun konsumen loyal di AsiaTenggara, seperti yang dilakukan Ducati dengan menyelenggarakan event learn to ride dan keselamatan berkendara, seperti track day untuk pengendara berpengalaman di Thailand.

Tentunya strategi itu berbeda dengan yang diterapkan di Eropa. Para enthusiast sepeda motor telah lebih mengenal merek dan fokus pada event balap. “Ini bukan soal performa tetapi apa yang sedang dilihat. Itu lebih dari sekadar benda gaya hidup untuk memiliki sepeda motor,” sebut Biondi.

“Apa yang akan kami tawarkan, tentu, racing soul, sebab balapan adalah sejarah kami dan balap adalah warisan kami, tetapi kini kami menawarkan lebih dari sekadar motor balap, ” tambahnya. “Meski orang tangguh belum tentu mengendarai superbike, seperti motor balap, berkeliling kota. Mereka tetap mengendarai Ducati, dan mereka tetap mengenalkan diri mereka bersama kami ketika mereka terlihat di TV.”(Afid/nm)

LEAVE A REPLY

*