Tips Memilih Motor Berdasarkan Torsi dan Tenaga

1
2405

Tips-Torsi-vs-tenaga

Jakarta (naikmotor) Dalam spesifikasi sepeda motor, seringkali terdapat angka-angka teknik mengenai torsi dan tenaga. Masing-masing pabrikan terkadang berbeda satuannya.

Pabrikan Amerika lebih cenderung menuliskan torsi dalam satuan lb.ft, tenaga dalam horsepower.

Sedangkan pabrikan Jerman dan beberapa pabrikan Jepang seperti Suzuki cenderung dengan PS (pferdestarke, daya kuda dalam bahasa Jerman) untuk tenaga dan torsi dalam Nm (Newton meter).

Belahan dunia lain menyebut daya dalam kW (kilo Watt) dan Nm/s (Newton meter per detik).

Tujuannya, jelas pabrikan mengejar karakteristik mesin khusus agar sesuai dengan berat, ukuran dan kategori kendaraan. Angka bervariasi dari mesin ke mesin dan biasanya hanya diberikan peringkat puncak.

Secara singkat torsi adalah kerja dalam arah rotasional, sedangkan tenaga adalah kerja per unit waktu.

Sebagai gambaran jika sebuah tuas ditempatkan pada crankshaft mesin dan diukur kekuatan putarnya (momen puntir), dan itulah torsi.

Dan deskripsi mengenai torsi paling sederhana adalah saat Anda memasang sekrup, daya yang diberikan saat memutar obeng itulah torsi.

Torsi konstan dari waktu ke waktu, lihat rumusan Nm. Tenaga diukur dari waktu ke waktu, lihat rumusan Nm/s. Semakin besar tenaga kendaraan, makin besar kemampuan menggerakkan massa dalam jumlah waktu yang sama, atau dapat menggerakkan massa yang cukup konstan (berat motor) dalam waktu lebih singkat.

Pada prakteknya, torsi diperlukan untuk memulai ‘take off’ atau berakselerasi, atau untuk menaklukan obstacle di medan off-road. Maka tak heran jika motor enduro, off-road atau trail, mengutamakan torsi yang optimal di putaran rendah.

Lain halnya dengan motor sport yang membutuhkan laju cepat terus-menerus sebanyak lap yang diwajibkan. Maka motor sport akan membutuhkan mesin yang bertenaga optimal.

Contoh mudah, pada produk Triumph. Model adventure atau dual purpose Tiger 800, sebenarnya dibekali mesin hasil pengembangan dari mesin Street Triple 675 yang notabene model streetbike.

Perhatikan saja ukuran bore-nya yang sama 74 mm. Tetapi pastinya berbeda soal stroke-nya yang lebih panjang, Street Triple 52,3 mm dan Tiger 800 61,9 mm. Tentunya itu untuk menghasilkan momen puntir yang besar.

Maka tak heran jika torsi maksimum-nya sudah dicapai pada 7.850 rpm. Di jalan aspal, akan terasa sebagai kemudahan berakselerasi. Sementara Street Triple torsinya 68 Nm @ 9.750 rpm. Tapi soal tenaga, Street Triple mempunyai 105 tk @ 11.850 rpm, tapi Tiger 800 yang berkapasitas lebih besar hanya 94 tk @ 9.300 rpm. (af/NM)

Tips-Torsi-vs-tenaga1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

*