
Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain persepsi terhadap performa motor listrik, keterbatasan bengkel konversi bersertifikasi, serta adanya biaya tambahan di luar nilai subsidi yang harus ditanggung pengguna.
Dalam skema baru yang tengah disiapkan, pemerintah mempertimbangkan penyesuaian nilai subsidi konversi. Bahlil menyebut bantuan konversi kemungkinan akan lebih kecil dibandingkan program sebelumnya.
“Tapi sekarang kan sudah mulai ada teknologi yang lebih murah, jadi mungkin sekitar Rp5 – 6 juta, jadi ke sini semakin murah,” papar Bahlil.
Penyesuaian nilai subsidi tersebut diharapkan tetap menarik bagi masyarakat sekaligus lebih efisien dari sisi penggunaan anggaran negara.
Bila target konversi 120 juta motor dapat tercapai dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan populasi sepeda motor listrik terbesar di dunia, sekaligus mempercepat langkah menuju target net zero emission di sektor transportasi. (Yuka/NM)



