Opini: Ikatan Motor Indonesia, Tak lagi Ayomi Pecinta Balap Nasional!

0
304

Surat-Pembatalan-IRS-Seri-2

Jakarta (naikmotor) – Di saat negara-negara tetangga berlomba mempercantik fasilitas, sarana dan pra-sarana untuk digunakan balap motor karena sudah melihat potensi pemasukan materi dan pembangunan imej negara melalui balap, Indonesia malah semakin terpuruk.

Salah satu ajang balap nasional bertajuk Indospeed Racing Series (IRS) yang melombakan berbagai kelas balap yang juga jadi sarana adu skill mekanik, riset tim balap dan bengkel balap, malah ditutup statusnya sebagai kejuaraan nasional. Bahkan lebih parah lagi, pekan ini yang seharusnya ada jadwal balap, malah tak jadi digelar. Padahal beberapa pembalap sudah menjalani sesi latihan Jumat (24/4) kemarin.
Alasannya, pihak PP IMI tidak memberikan surat izin penyelenggaraan event IRS seri kedua karena pihak promotor dianggap masih melakukan pelanggaran di seri pertama hingga status Kejurnas balap motor tersebut dicabut.

Bukannya mau mencari siapa yang salah atas siapa. Namun ketika ajang balap nasional yang justru menjadi titik tolak pembalap nasional berprestasi di ajang dunia, harusnya jadi masalah bersama. Musim sudah berjalan, lalu status kejuaraan dan event dihentikan sepihak tanpa ada pengganti, tentunya sangat merugikan.

Bukan hanya bagi tim-tim balap yang sudah mempersiapkan paket motor balap mereka sejak akhir tahun lalu. Namun juga bagi pembalap dan sponsorship. Apalagi bagi manufaktur atau tim yang menjadikan ajang ini sebagai batu loncatan ke ajang balap yang lebih tinggi di tingkat Asia.

“Ini menyangkut hajat hidup orang yang berkecimpung dalam dunia balap. Hajat hidup kita dizalimi, semoga yang menzalimi diberikan hidayah” keluh Wawan Hermawan sang pembalap tim Astra Motor Racing melalui akun facebook miliknya.

“Tiap team sudah keluarin budget 10jt x 50 team = 500jt ini uang terbuang sia-sia. Seandainya kita kasih buat makan anak yatim..ada berapa ribu orang anak yatim bisa makan selama 1 minggu. Oknum IMI ini sama aja mentelantarkan ribuan anak yatim,” komentar Slamet Suroto, Manager ART Yogyakarta yang tertera di akun facebook resmi Astra Motor Racing Team.

Bahkan Angga yang merupakan pemilik tim Anjany Racing, juga merasa sangat dirugikan. “Riset yang kami lakukan selama ini jadi tak berguna lagi!”

Lalu apa efek buruk yang bisa terjadi? hmm, hal pertama adalah tim balap jadi tak punya wadah untuk meriset hasil kerja mereka. Lalu kedua adalah pembalap yang tak lagi punya media untuk asah skill atau memenuhi kebutuhan dapur mereka. Lantaran tak sedikit dari mereka yang bekerja layaknya karyawan yang tertuang dalam kinerja sebagai pembalap.

Kerugian yang ketiga adalah tim manufaktur tak punya ajang pembibitan pembalap. Lalu dari sisi sponsorship juga tak pastinya tak ingin dirugikan dengan pembatalan balapan. Mereka biasanya tak ingin tahu apapun alasannya. Bisa jadi mereka meminta pengembalian sisa dana yang tidak digunakan dalam balapan.

Dampak buruk lain bisa dilihat dari sisi penciptaan lapangan pekerjaan. Artinya kru tim, terancam kehilangan lapangan pekerjaan. Dan ancaman paling menakutkan adalah meningkatnya ajang balap liar yang bisa mengakibatkan banyak korban jiwa.

Jadi, seharusnya masalah ini dianggap sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama. Bukan menjadi ajang untuk adu kepentingan yang merugikan banyak pihak. Jangan sampai ajang balap terkontaminasi dengan suasana politik praktis hanya untuk mengunggulkan pihak tertentu.

Dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia sebagai hulu dan pemegang keputusan, jangan membuat semuanya tambah runyam. Enggak malu apa sama negara-negara tetangga? jualan motor paling gede di ASEAN, tapi bikin balap berstatus Kejurnas saja tak bisa. Cape deeeehhh!

Oiya, ada video mengenai briefing mengenai kejelasan balap IRS di Sirkuit Sentul kemarin, Jumat (24/4) yang diunggah ke Youtube oleh akun uq qq (Spy/NM) Foto: Istimewa

LEAVE A REPLY

*