
Tahun 1970, Abaw ikut bergabung ke tim Yamaha, sehingga mereka menjadi tim kuat di balapan dengan empat pembalap. Kuartet mereka sulit untuk dikalahkan saat bertanding di kejuaraan lokal seperti Bandung, Tasik, Solo, Semarang, Surabaya.
Tidak hanya balap di Indonesia, namun juga sampai keluar negeri Singapura, Johor, Pineng, Batu Tiga sampai ke Macau.”Dia pernah juara di Selangor, karena yang saya sukai dari Abaw itu balapnya agresif dan bisa dibilang nekad,”tukas Benny yang menyukai gaya balap pembalap MotoGP, Pedro Acosta.
Di media 1970-an, keempatya merajai balapan di berbagai daerah, hingga kemudian Benny Hidayat memutuskan pesniun di tahun 1978. “ Setelah pensiun ditarik jadi instruktur di Yamaha selama tiga tahun sampai akhirnya benar-benar berhenti dari dunia motor tahun 1981.”
Sementara itu Abaw dan Abeng masih melanjutkan kiprahnya hingga era 1980-an. Abaw masuk lagi ke Suzuki dan Abeng pindah ke Kawasaki serta merajai balapan di Ancol hingga era GP namanya. Abaw menjadi jawara di era balapan Ancol dengan beberapa prestasinya termasuk saat Ancol menjadi kejuaraan GP.
Apa kata Benny Hidayat soal sosok Abaw? “Kalau dari prinsip kita, pembalap itu harus jujur dan menjunjung sportivitas. Waktu balapan kita fight, tapi di luar balapan kita tenang. tidak ada permusuhan. Abaw baik orangnya dan ciri khasnya itu dia orangnya nekat. Ingat waktu dia juara Grand Prix sekitar tahun 1988–1989 di Ancol. Lawan-lawannya juga dari luar negeri. Salah satunya pembalap top Manfred Fisher Abaw waktu itu pakai motor Suzuki RGV500 yang dia beli sendiri untuk bisa juara,”tukas Benny. (Arif/nm)
Selamat jalan Abaw..




