Di Balik Alasan Regulasi Kejurnas Sport 250cc 2017 Berbeda dengan ARRC

0
570
Regulasi Kejurnas Sport 250cc 2017
Aksi para pembalap di IRS 2016. Foto: Yamaha Indonesia

NaikMotor – Regulasi Kejurnas Sport 250cc 2017 sudah dikeluarkan resmi oleh PP IMI. Tidak banyak perubahan berarti dengan aturan teknik tahun sebelumnya yang banyak diprediksi akan mengacu ke kelas AP250 di Asia Road Racing Championship (ARRC). Kenapa?

Tahun ini, Kejurnas Indospeed Race Series kelas Sport 250cc akan lebih bergairah dengan masuknya tim-tim Honda menggunakan All New Honda CBR250RR untuk menyaingi dominasi Yamaha R25. Dan regulasi Kejurnas Sport 250cc 2017 pun sudah disahkan.

Pihak Indospeed Indonesia selaku promotor Nasional Kejurnas Sport di Sentul juga mengumumkan penggunaan one make tyre seperti halnya yang pernah dipakai di seri pamungkas lalu yakni ban Dunlop Sportmax AlphaGP sebagai ban wajib untuk peserta kelas Kejurnas Sport 250cc. Ban Dunlop Sportmax AlphaGP yang disediakan adalah dengan ukuran 110/70-17 (depan) dan 150/60-17 (belakang).

Foto_Kejurnas_IRS_2016_seri_1_41

Melanjutkan tren positif yang sudah terbentuk sejak tahun lalu, regulasi Kejurnas Sport 250cc Indospeed Race Series (IRS) 2017 tidak mengalami banyak perubahan, terutama dalam hal upgrade motor.

Kejurnas sport 250cc IRS memperbolehkan setiap tim melakukan perubahan pada motor, meliputi modifikasi crankshaft, piston, dan girboks, bubut magnet, penggantian ECU dan aki, serta porting. Sementara aturan baru yang mendapat tanggapan dari tim adalah penggunaan pelek standar, yang berbeda dengan tahun lalu serta tidak mengacu pada regulasi ARRC.

“Soal regulasi teknis Sport 250cc tahun ini, kita mengajak Benny Djatiutomo sebagai advisor karena memang dia sudah berpengalaman. Kita diskusikan bersama dan sudah disahkan dan mungkin sampai dengan 2018 tidak akan berubah,“ tambah Bambang Gunardi, tokoh balap dari pihak Indospeed Indonesia. Jadi jelas, regulasi yang diterapkan Kejurnas IRS berbeda dengan regulasi ARRC.

“(Regulasi IRS) Diterapkan supaya memberikan pembelajaran untuk mekanik juga. Aturan kami lebih tinggi dari ARRC, enggak selalu harus sama dengan ARRC. Kalau bisa ARRC yang mengikuti (regulasi) kita, seperti halnya (kelas) underbone dulu,” ujar Benny Djati Utomo yang sejak tahun lalu sudah tidak berkecimpung di tim balap lagi. Makanya, ia diajak pihak Indospeed untuk berdiskusi soal ini.

“Dengan regulasi seperti ini setiap tim bisa punya kesempatan yang sama. Kalau full standar artinya yang punya pembalap ‘kurang jago’ enggak memiliki kesempatan menang. Kalau motornya standar mereka cuma pasrah. Kalu boleh modif camshaft, artinya mereka punya kesempatan berkerasi agar lebih kompetitif,” urai Benny seperti diungkapkan Stevi Gunardi dari Indospeed. (Yudistira/nm)

 

LEAVE A REPLY

*