Kegiatan ini menjadi simbol nyata bahwa kepedulian dan sinergisitas TNI dan komunitas tidak hanya terpaku pada benda cagar budaya bergerak (motor antik), tetapi juga pada situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa.
Kolaborasi TNI dan lintas komunitas dilakukan dengan aksi gotong royong yang melibatkan sedikitnya 100 peserta dari PEMUDI’S, Relawan Sejarah Roodebrug Soerabaia, Paldam V Brawijaya, dan komunitas undangan lainnya di wilayah Surabaya.
Para peserta bahu-membahu membersihkan area benteng dari vegetasi liar dan sampah, sembari melakukan edukasi mengenai pentingnya menjaga struktur bangunan pertahanan pantai peninggalan masa kolonial tersebut agar tetap lestari.
Sony, selaku Ketua Pelaksana kegiatan, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar agenda bersih-bersih biasa. Menurutnya, Benteng Kedung Cowek dipilih karena nilai historisnya yang sangat kuat namun sering kali luput dari perhatian utama.
”Kami ingin menciptakan ruang kolaborasi epic yang berfungsi sebagai aksi tanggap darurat. Di tengah gempuran modernisasi, bangsa kita sering mengalami ‘krisis identitas’. Menjaga warisan budaya adalah cara kita tetap berpijak pada akar sejarah, terutama dalam menghadapi dinamika zaman dan potensi konflik yang bisa mengikis jati diri bangsa,” ujar Sony. (rls/NM)



